Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Munculnya Toxic Masculinity: Laki-Laki Waspada Terjebak

 

Toxic Masculinity

Secara sejarah konsep maskuliniti sudah ada sebelum tahun 1980-an di negara barat. Sebelum tahun 1980-an konsep maskuliniti ini dimaknai sebagai laki-laki yang bertangan baja dan merupakan pekerja yang mendominasi perempuan. Jadi laki-laki dalam keluarga berperan sebagai kepala keluarga, pemimpin, dan sebagai pengambil keputusan utama dalam sebuah keluarga.

Pada tahun 1980-an konsep maskunliniti ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dinamakan new man as nurturer (kebapakan). Laki-laki dalam kelompok ini  akan memberi kasih sayang pada anak-anak mereka dan tidak segan membantu pekerjaan-pekerjaan yang ada dirumah tangga atau pekerjaan domestik yang biasanya dilakukan oleh perempuan. Selain itu mereka yang dalam kelompok “new man as nurturer” ini rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan juga tingkat intelktual yang tinggi pula.

Sedangkan kelompok kedua disebut new man as Narcissist (Narsistik) mereka memaknai tingkat maskulinitas mereka sebagai gaya hidup, sehingga mereka cenderung berperilaku konsumtif, suka berbelanja, memiliki perhatian tinggi terhadap penampilan. Kelompok ini bisa dilihat dari cara berpakaian mereka dan juga barang mewah yang mereka gunakan.

Pada tahun 1990-an telah terjadi perubahan dalam konsep maskulinitas. Jadi laki-laki mulai tidak peduli dengan hal remeh temeh yang terjadi pada tahun sebelumnya. Mereka lebih peduli spending time dengan bermain dengan teman-temannya, nongkrong, menonton bola bahkan memberi komentar yang mengobjetifikasi perempuan sebagai bentuk maskulinitasnya mereka.

Dan pada tahun 2000-an pada konsep maskulinitas. Laki-laki sekitar tahun ini dianggap memiliki maskulinitas, apabila mereka berpengetahuan luas, bersikap detail, teratur, dan memberi perhatian lebih pada penampilan mereka.

Setelah membahas sejarah perkembangan konsep maskulinitas. Selanjutnya mari kita membahas mengenai konsep maskulinitas itu sendiri. Jadi, maskulinitas ini secara sosial dapat didefinisikan sebagai cara untuk menjadi seorang laki-laki. Walaupun maskulinitas ini juga bisa terdapat pada perempuan. Namun konsep maskulinitas pada laki-laki sangat erat dengan peran gender pada laki-laki. 

Konsep maskulinitas dalam bahasa inggris dimaknai dengan kata jamak yaitu masculinities hal ini ini dikarenakan terdapat perbedaan mengenai pengertian konsep maskuliniti itu sendiri.

Setiap tempat dalam periode sejarah, latar belakang budaya yang berbeda tentunya akan menkonstruksi konsep maskulinitas yang berbeda pula. Definisi maskulinitas yang beragam tentunya tidak duduk berdampingan karena memiliki syarat sosial dan ketentuan tersendiri yang ada didalamnya.

Dalam masyarakat itu sendiri maskulinitas juga memiliki hierarki. Teradap dua jenis maskulinitas yang ada dimasyarakat. Maskulinitas yang dianggap dominan atau hegemoni dan juga maskulinitas yang termarjinalka. 

Adanya hirarki dalam konsep maskulinitas ini tidak hanya terjadi pada laki-laki dengan laki-laki, namun juga terjadi pada laki-laki dengan perempuan.  Dan terjadi hampir diseluruh kebudayaan dan seluruh dunia. 

Maskulinitas yang mendominasi dimasyarakat adalah pada laki-laki yang memiliki sifat kuat, kaku, kompeten, dan juga sukses dalam karirnya. Sehingga memiliki pengakuan di tengah masyarakat. Konsep maskulinitas yang dominan ini, laki-laki direprentasikan sebagai individu yang kuat memiliki pengendalian emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya bahkan kesedihannya.

Nah permasalahanya adalah adanya anggapan bahwa laki-laki tidak bisa mengeksperesikan kesedihannya dengan menangis kerap kali membuat laki-laki tidak memiliki wadah untuk menyalurkan emosinya. Celakanya lagi karena mereka menahan emosi-emosi negatif yang mereka rasakan, seringkali terjebak dalam konsep maskulinitas beracun atau toxic masculinity.

Toxic masculinity adalah salah satu konsep psikologis dimana peran serta laki-laki dan juga karakteristiknya dalam masyarakat tertentu yang memberikan dampak negatif pada laki-laki.

Toxic masculinity dapat dilihat dari ketaatan pada laki-laki terhadap peran gendernya secara tradisional. Dimana laki-laki dilarang memiliki sikap feminis seperti pada perempuan, termasuk juga dalam memberikan ekspektasi-ekspektasi tertentu pada laki-laki. Seperti laki-laki harus menjadi individu yang dominan dan selalu mencari cara agar menjadi dominan di dalam masyarakat.

Dalam konteks gender, toxic masculinity menjadi salah satu faktor yang melanggengkan budaya patriarki. Karena laki-laki sejak kecil diberikan ekspektasi bahwa mereka harus menjadi yang utama, harus menjadi pemimpin, dan juga harus mendominasi. Sehingga pada akhirnya laki-laki yang tidak memiliki karakteristik-karakteristik tersebut seringkali mengalami bullying karena dianggap tidak cukup laki-laki.

Contoh-contoh dari toxic masculinity adalah adanya ungkapan-ungkapan yang menyatakan bahwa laki-laki harus bersikap jantan, kaut, tangguh, tidak menunjukkan sisi emosionalnya, memiliki karir yang lebih baik dari perempuan, dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi karena perannya sebagai tulang punggung atau pencari nafkah dalam keluarga.

Bahkan sampai muncul ungkapan ekstrim seperti laki-laki tidak mungkin jadi korban pelecehan seksual, korban kekerasan, sampai dengan korban pemerkosaan. Karena hal tersebut memberikan kesempatan laki-laki untuk dapat memiliki kesempatan untuk berhubungan seksual.

Adanya toxic masculinity telah memberikan dampak yang sangat buruk bagi laki-laki. Menurut penjelasan dari salah satu tokoh psikologi mengatakan bahwa  toxic masculinity ini dapat merusak mental seorang laki-laki. Karena dapat menyebabkan depresi dan bunuh diri. Di Indonesia sendiri angka bunuh diri pada laki-laki berkisar 4,8/100.000 penduduk, lebih tinggi dibanding perempuan dengan angka 2,0/100.000 penduduk.

Pertanyaan saat ini adalah apa yang bisa kita lakukan? Langkah yang bisa kita lakukan saat ini adalah melakukan edukasi gender terhadap anak-anak usia dini agar dapat mengetahui peran gender yang ideal antar laki-laki dan perempuan. Selanjutnya kita bisa memberikan ruang sebebas-bebas dan seluas-luasnya untuk laki-laki meluapkan sisi emosionalnya sehingga laki-laki bisa merasa aman dan nyaman. 

Dan yang terakhir kita harus menghilangkan stigma negatif terhadap laki-laki yang memiliki yang konsep maskuliniti yang berbeda. Sehingga toxic masculinity dapat diatasi dan juga memberikan kondisi yang lebih baik kepada laki-laki kedepannya.

Post a Comment for "Munculnya Toxic Masculinity: Laki-Laki Waspada Terjebak "