Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yang dimaksud Hustle Culture, Penyebab Manusia Gila Bekerja

Hustle Culture

Apa kamu akhir-akhir ini sering melihat dan memperhatikan banyak orang disekitarmy yang bekerja tidak kenal waktu dan tempat. Waktu makan mereka masih sibuk meeting dan persentasi. Malam minggu masih video call sama atasan. Bahkan meski tengah malam masih sibuk ngurusin deadline kerjaan. Tampak melelahkan tapi bagi melakukan istirahat membuat merasa bersalah dan tidak tenang, gaya hidup seperti inilah yang dimaksud hustle culture.

Hustle Culture adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang memiliki motivasi untuk bekerja melebihi batas waktu, demi meraih target dan kesuksesan. Orang seperti ini akan sibuk terus dan bekerja terus menerus seakan-akan gak ada waktu untuk istirahat. Karena mereka menganggap istirahat berarti menjadi malas.

Jepang adalah negara dengan penduduk yang sangat identik dengan hustle culture ini. Kebanyakan penduduk jepang memang sangat  terkenal menjunjung tinggi pekerjaan. Dampaknya tidak sedikit kasus kematian bahkan bunuh diri karena disebabkan kelelahan bekerja berlebihan. Dijepang sendiri memiliki istilah karoshi atau dalam bahasa inggris death from overwork untuk menyebut mereka yang mengalami hustle culture.

Ini dia penyebab atau faktor munculnya hustle culture yang perlu kamu ketahui;

1. Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi menyebabkan hustle culture menyebar dengan cepat. Handphone yang dulu cuman kita gunakan untuk mengirim sms atau melakukan panggilan saja, kini bisa digunakan untuk bekerja seperti lewat email, menyusun presentasi, melakukan rapat lewat zoom, dan berbagai kegiatan yang ditunjang oleh berbagi aplikasi smartphone masa kini.

Anggapannya teknologi hadir untuk mempermudah kita dalam bekerja. Jadi gak ada alasan lagi untuk tidak bekerja. Kemajaun teknologi juga ini membuat orang bisa bekerja sepanjang waktu tanpa ingat untuk beristirahat.

2. Toxic Positivity

Dorongan untuk tetap sabar dan terus mencoba walaupun kondisi sudah sangat melelahkan dan ingin menyerah adalah gambaran kondisi dari toxic positivity ini. Asumsi dan pikiran seperti ini biasanya bersumber dari dalam diri sendiri atau perkataan orang sekitar. Seringkali kita merasa lelah dalam bekerja bukannya beristirahat malah muncul kalimat seperti ;

“jangan lemah”

 “ayo semangat”

“ kamu pasti bisa menyelesikannya, jangan cepat menyerah itu belum seberapa”

“ kamu bisa ngerjain lebih bagus lagi”

dan perkataan yang memang positif tapi bisa jadi toxic ketika kondisimu memang sudah tidak memungkinkan untuk terus-terusan bekerja.

Saat kamu  mencoba menghindari perasaan yang tidak menyenangkan, pikiranmu akan berkata bahwa kamu tidak perlu memperhatikannya. Jika terus menerus memendam emosi dan tidak memvalidasi perasaan dan kelelahan ujung-ujungnya kamu bisa jadi burnout tau stress berat.

Jadi bagaimana caranya agar terhindar dari hustle culture ini agar tetap produktif dan sehat?, Berikut tipsnya;

1. Memprioritaskan Kesehatan

Ingatlah bahwa kesehatan adalah hal yang paling utama. Segala kesuksesan dan penghasilan yang banyak yang telah diraih tidak akan kita nikmati dan tidak ada lagi artinya jika kita tidak memiliki kesehatan yang baik.

Kesehatan fisik, psikis, dan emosional perlu dijaga agar kita bisa melakukan berbagai aktivitas dengan optimal secara jangka panjang. Saat kondisi tubuh sudah mulai tidak fit dan rentan sakit tentu akan berdampak langsung pada kinerja dan produktiviras kita.  

Saat ini kesehatan adalah sesuatu yang mahal. Jangan sampai hasil keringat kamu selam ini nantinya akan kamu habiskan untuk membiyai pengobanmu. Jadi bekerjalah dengan tidak lupa mengingat istirahat.

2. Bertanya kediri sendiri

Setiap kali kamu menemukan diri terus bekerja dan sulit istirahat. Berhentilah! Dan tanya kedalam dirimu “Kamu kenapa? Kenapa buru-buru?Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apa yang kamu lakukan sekarang apakah akan mendekatkan kamu pada keinginanmu itu? Apa kamu bahagia?”Dan pertanyaan ke diri sendiri yang bisa membuatmu kembali berpikir tentang kodisimu saat ini.

3. Hargai Proses

Bukan seberapa banyak kegiatan yang kamu lakukan, sberap banyak projek yang kamu selesaikan, dan seberapa banyak target yang telah kamu capai?. Tapi seberapa sunguh-sungguh kamu dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.  Proses ini yang membuatmu banyak belajar dan melalukan refleksi. Sehingga kamu dapat menjadi orang yang lebih baik kedepan.

4. Maksimalkan waktu dengan menjadi mindful

Cobalah menjadi mindful atau sadar secara penuh terhadap apapun yang kamu lakukan saat ini baik dalam bekerja maupun istirahat.

Ketika bekerja fokus pada pekerjaan yang dilakukan dan prosesnya. Bukan komentar orang lain, hasil akhir, ataupun malah pekerjaan lain. Pekerjaanmu pasti dapat lebih efisien dan efektif, sehingga kamu lebih santai  dan tenang.

Tulisan ini bukan dibuat untuk membuatmu malah bermalas-malasan dalam bekerja. Bekerja keras itu baik namun kalau berlebihan  jadi gak baik bagi kamu, apalagi kesehatanmu. Kamu juga berhak istirahat sebagi bentuk berbuat baik ke diri sendiri. Ingat istiraht itu bukan berarti malas. Justru kamu butuh sitirahat untuk lebih fokus  dan maksimal dalam bekerja.

Post a Comment for "Yang dimaksud Hustle Culture, Penyebab Manusia Gila Bekerja"