Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Waspadai Toxic Parenting! Kenali Tanda dan Bahayanya

Toxic Parenting

Apakah anda pernah merasa tidak nyaman saat bersama orangtua anda? Atau merasa omongan atau perlakuan orang tua memojokkan dan menyakti hati anda?. Meskipun terus terjadi, namun memilih memaafkan tanpa diminta selalu jadi jawabn kita sebagai anak. Karena kita tahu bahwa sebenarnya mereka menyangi kita, dan mungkin caranya memang tidak tepat. Atau karena memang kita tidak paham, sesuatu yang mereka lakukan itu termasuk toxic.

Sebenarnya tidak ada orangtua yang ingin berniat jahat atau toxic kepada anaknya, kalaupun ada itu bisa masih bisa dihitung jari. Namun yang menjadi masalah adalah orangtua kadang-kadang memiliki pola asuh yang tidak tepat. Alih-alih ingin memberikan yang terbaik, malah berdampak buruk pada perkembangan anak khususnya secara mental.

Berikut tanda dari anak yang memiliki orangtua yang toxic sebagai berikut;

1. Emosi yang tidak terkontrol

Orangtua yang toxic memiliki emosi yang meledak-ledak. Malasalah kecil suka dibesar-besarkan dan mendramatisir kesalahan anak. Orangtua ini cenderung suka menyalahkan anak, dan mengungkit-ungkit perjuangan dan pengorbanan untuk anaknya.

2. Tidak berempati.

Pernahkah kalian merasa tidak pernah cukup karena orang tua yang mengharapakan kalian untuk menjadi yang terbaik atau menjadi orang sukses versi gambaran mereka. Bagi mereka jika kalian mendapat sesuatu dengan jerihpayah kalian tetap dianggap kurang karena tidak sesuai dengan kemauan mereka. Orang tua seperti ini hanya memikirkan egonya.

3.  Terlalu banyak mengatur

Orang tua yang seperti ini cenderung disebut otoriter. Menuntut namun mengekang anak diwaktu yang sama. Anggapan keras terhadap anak merupakan bentuk cinta dan kasih sayang orangtua adalah anggapan yang keliru.

4. Tidak memberi privasi kepada anak

Ambisi atau kebiasaan orangtua untuk selalu mengatur segala kehidupun anaknya, membuat orangtua tidak bisa memberi privasi anaknya hingga tumbuh dewasa. Padahal memberi privasi atau ruang pribadi kepada anak membantu anak menjadi percaya diri dan juga mandiri.

5. Memanjakan dan membebaskan anak.

Ternyata toxic parenting tidak hanya dicirikan pada orangtua yang banyak mengatur. Namu juga orang tua yang membebasakan anak untuk melakukan atau meminta apaun yang dia inginkan, tanpa ada target atau batasa. Orang tua seperti ini cenderung  acuh terhadap perkembangan anak.

6. Suka mengkritik

Apapun yang  di capai anaknya, tetap dianggap tidak cukup bahkan terus dibanding-bandingkan dengan anak orang lain. Anaknya dianggap selalu salah, bahkan mereka suka memberi candaan yang secara tidak langsung mengecilkan hati anaknya.

Mempunyai orang tua yang toxic memang tidak mudah, dan itu bisa saja terjadi karena trauma masa kecil dari orang tua kita.

Apa dampak yang ditimbulkan pada anak dengan toxic parenting dalam hidupnya?

  1. Anak menjadi sangat berambisi membuat orangtua bangga dengan mengahalakan cara apapun
  2. Anak merasa tidak dicintai
  3. Anak dapat menjadi pembangkan
  4. Sering menyalahkan diri sendiri
  5. Mempengatuhi fisik dan kesehatan mental
  6. Bisa mempengaruhi masa depan anak
  7. Mereka memperlakukan hal yang sama pada anaknya dimasa depan.

Lalu bagaimana sebenarnya pola asuh yang baik untuk mencegah toxic parenting ini?

Jadilah orangtua yang supportif. Tentu orangtua harus membebaskan anak untuk memilih pilihan hidupnya. Namun harus diikuti dengan dukungan secara finansial maupun moril. Dukungan moril yang dimaksud seperti memberi semangat, pujian, meluangkan waktu untuk anak bercerita. Dengan begitu anak akan merasa diperhatikan, diarahkan dan didukung perkembangannya.

Untuk anak yang sudah terjebak dalam toxic parenting ini. Ia harus segera menerima dan menyadari kalau ia sedang dalam pola asuh yang tidak tepat dari orangtuanya. Dengan menyadari itu tentu tidak membuat anak lantas membenci atau tidak menaruh hormat lagi pada orangtuanya. Anak harus mampu memaafkan orang tua.

Mencoba membicarakan baik-baik dengan orangtua dapat emnjadi piliahan yang tepat. Anak harus menggunakan momentum yang baik  dan  memikirkan kata-kata yang baik, yang tidak melukai orangtua mereka. Sehingga saat anak mencoab mengkomunukasikan, orangtua bisa mendengarkan anaknya dengan baik, mendengar keluh kesah dan keinginan anaknya. Dan orangtua pada akhirnya dapat mengetahui kondisi anak sebenarnya dan mengevaluasi diri untuk kebaikan anak kedepannya

Terakhir yang perlu diingat oleh orang tua bahwa anak merupakan anugrah dari sang pencipta, yang tidak bisa memilih kepada siapa manusia yang bisa dia sebut sebagai orang tua. Rawatlah dengan baik dan jadilah orangtua yang terbuka dan peka terhadap kondisi anak. Karena perkembangan anak sangat dipengaruhi lingkungannya, apalagi lingkungan terdekatnya yakni keluarga.

Post a Comment for "Waspadai Toxic Parenting! Kenali Tanda dan Bahayanya"