Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tidak Menyelesaiakan Apa-Apa, Stop Toxic Positivity

Toxic Positivity

“Yok biasa yok, kamu harus kuat”

“Coba deh sabar aja”

“Tidak apa-apa, nanti pasti udah lupa kok”

“Syukuri aja deh, ada yang lebih parah loh dari kamu”

“Possitive thinking aja yuk”

Diatas merupaka contoh mantra-mantra positif yang sering kita yang sering kita ungkapkan untuk merespon curhatan atau keluhan orang-orang yang sedang mengalami perasaan atau keadaaan sulit. Tanpa sebelumnya kita memahami dengan baik perasaannya, tanpa membantu menawarkan solusi, dengan gamblangnya kita hanya mengatakan kalimat-kalimat serupa diatas kepada mereka agar sabar dan tetap berpikir positif.

Malah mungkin kita juga sendiri yang sering mengalami hal ini, bagaimana kita memendam perasaan sedih, marah, dan kesal. Lalu terus berpura-pura kuat, mengubur perasaan dalam-dalam dan akhirnya emosi itu meledak dengan sendiri dan akhirnya berpengaruh pada mental kita semakin parah. Hati-hati ini namanya toxic positivity yang perlu kita hentikan dan sadari secepat mungkin.

Toxic Positivity membuat kita lari dari kenyataan negatif. Intinya kita terus menuntut berpikir positif dan menolak emosi negative yang dirasakan. Kemudian kita menganggap bahwa Perasaan yang negative itu buruk, dan yang positi baik. Itulah kenapa banyak orang lebih memilih memendam perasaannya daripada dianggap manusia tukang ngeluh atau tidak tau bersyukur. Padahal setiap perasaan manusia itu tidak perlu digampangkan. Dengan jujur dengan apa yang kita rasakan. Dapat membuat kita bisa tau bagaimana menanggapi perasaaan dan keadaan tersebut. Agar kita tau bagaimana membuat mental kita bisa tetap sehat.

Berikut ciri-ciri ketika terpapar toxic positivity

  • Merasa bersalah ketika emosi negative seperti marah dan bersedih muncul
  • Memendam perasaan negative dan mengabaikan
  • Saat seseorang curhat ke kita, kita cenderung mengabaikan perasaan dan keadaaannya
  • Sering mengucapkan kalimat yang membandingka diri dengan kehidupan atau nasib orang lain

Dengan banyaknya dampak negative yang ditimbulkan. Maka kita perlu tahu bagaimana menghindari atau mengatasi toxic positivity

1. Tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja

Menyangkal akan perasaan negatif yang dirasakan, sering sekali dianggap suatu hal yang wajar bagi seseorang. Padahal itu sama sekali tidak baik. Kita perlu mengakui jika sedang dalam keadaan dan tidak baik-baik saja. Kita berhak untuk merasa sedih, stress, bahkan menangis jika kita memang ingin melakukannya. Ingatlah bahwa dalam hidup kita tidak mungkin akan merasa bahagia terus, ketika merasa perasaan sebaliknya maka kita perlu menyangkalnya.

2. Menerima setiap perasaan yang dirasakan

Jadi apapun yang kita rasakan, daripada menyangkal kita harus menerimanya. Setelah memahami perasaan kita sendiri, kita perlu fokus untuk memperbaiki dan belajar pulih pelan-pelan dari situasi saat kita. Kita bisa melakukan banyak hal untuk itu membuat perasaan menjadi lebih baik. Misalnyadengan bercerita keorang lain yang di percaya dan bisa mendengar cerita kita dengan baik. Jika tidak bisa menncritakannya ke orang lain, kita bisa  menulis di buku harian misalnya untuk melepaskan uneg-uneg atau keluh kesah yang kita rasakan, agar dapat mengurangi  rasa sedih yang dirasa

3. Tidak menyalahkan dan mengahakimi perasaan negative orang lain.

Ketika orang lain mempercayakan kita untuk mencurahakan perasaannya. Kita harus mencoba membuat mereka untuk berbicara jujur terhadap apa yang dirasakan. Jangan melakukan sebaliknya. Jangan memberi tahu mereka untuk tidak mengeluh, menyuruh banyak bersyukur saja, atau bahkan berniat menguatkan dengan cara melarang mereka jadi cengeng dan menangis bahkan. Kita tidak boleh menyalahkan perasaan mereka, kita harus mendukung dengan memvalidasi apa yang mereka rasakan sebenarnya. Namun tidak hanya sampai disitu. Setelah membuat mereka menerima perasaannya, Ingatkan mereka untuk bangkit dengan pelan namun pasti.

Ketika kita terus dituntut berpikir positif ditengah perasaan negatif yang kita rasakan. Itu akan menambah pressure dan masalah yang kita hadapi, kita tidak mencoba memikirkan baik-baik solusinya. Karena ketika kita denial sama masalah atau perasaan kita , kita hanya fokus berusaha mengubur dalam-dalam perasaan itu dan tidak melakukan tindakan apa-apa.

Mengakui, membuktikan, dan memberi perhatian pada emosi kita sebenarnya adalah tindakan cinta diri dan cara untuk kita bisa berubah. Jadi mulai sekarang kalau kalian merasa kecewa, sedih, marah sama keadaan yang kalian alami. Semua itu tidak apa-apa, itu normal. Validasi perasaan kalian adalah penting untuk di lakukan. Begitupun jika orang lain, seorang misalnya curhat ke kita. Kita perlu mendengarnya dan tidak menghakimi perasaannya.

 

Post a Comment for " Tidak Menyelesaiakan Apa-Apa, Stop Toxic Positivity"